Serang, Teropongbanten.id- Menanggapi lonjakan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengalami 15 kali erupsi dalam kurun waktu kurang dari lima jam, jajaran Personil Polsek Cinangka, Polres Cilegon bergerak cepat melaksanakan monitoring ketat dan koordinasi intensif. Langkah ini diambil guna memastikan kesiapsiagaan mitigasi bencana serta menjaga kondusivitas masyarakat pesisir Selat Sunda di wilayah hukum Polsek Cinangka.
Kapolres Cilegon, AKBP Andika Adi Pradana, S.I.K., M.M., melalui Kapolsek Cinangka, menginstruksikan seluruh anggota untuk memperkuat komunikasi dengan Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran. Arahan ini segera ditindaklanjuti oleh tim piket Polsek Cinangka yang dipimpin oleh AIPDA Deni Irawan (Ka SPK), bersama BRIGPOL Irvan (Piket Reskrim), dan BRIPTU Alan (Bhabinkamtibmas Desa Pasauran) melalui pemantauan sistem instrumen MAGMA-VEN (Volcanic Eruption Notice).
Berdasarkan data resmi PVMBG dan Badan Geologi KESDM pada Sabtu, 31 Oktober 2026, terekam rentetan 15 kali aktivitas letusan beruntun sejak pukul 18:30 WIB hingga 23:23 WIB. Meskipun visual letusan tidak teramati karena faktor cuaca dan malam hari, seismogram mencatat sejumlah letusan signifikan, di antaranya:
Pukul 19:38 WIB: Amplitudo maksimum mencapai 48.0 mm dengan durasi ± 147 detik.
Pukul 19:54 WIB: Amplitudo maksimum melonjak ke 50.0 mm.
Pukul 20:18 WIB & 20:24 WIB: Menjadi letusan dengan tremor terbesar, masing-masing mencatatkan amplitudo 58.0 mm dan durasi panjang hingga 271 detik (lebih dari 4 menit).
Secara teknis, jika durasi letusan melebihi 2 menit (120 detik) dan intensitasnya terjadi lebih dari 10 kali dalam satu jam, maka aktivitas Gunung Anak Krakatau disimpulkan masuk ke dalam kategori Tinggi (di luar kebiasaan).
Edukasi dan Ancaman Bahaya Sekunder (Laze)
Pihak Kepolisian turut mengedukasi masyarakat agar memahami perbedaan sistem pelaporan kebencanaan. Informasi cepat letusan real-time bersumber dari Volcanic Eruption Notice (MAGMA-VEN), sementara perkembangan kondisi menyeluruh dirangkum berkala dalam Volcanic Activity Reporting (VAR).
Mengingat status berada pada Kategori Tinggi, Polsek Cinangka mengingatkan warga terhadap ancaman sekunder berupa hujan abu lebat serta kemunculan Gas Beracun (Laze). Fenomena Laze terjadi akibat pertemuan lava panas dengan air laut atau air hujan yang menghasilkan asam klorida, uap pekat, dan partikel kaca halus yang sangat berbahaya bagi sistem pernapasan.
Rekomendasi Keselamatan dan Upaya Mitigasi Polri:
Saat ini Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Status Level III (Siaga). Demi keselamatan bersama, Polsek Cinangka menekankan kepatuhan terhadap rekomendasi berikut:
Patuhi Radius Bahaya: Larangan keras bagi masyarakat, nelayan, pendaki, dan wisatawan untuk mendekati pusat erupsi dalam radius 5 KM, serta radius 1 KM dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara.
Proteksi Diri di Area Pesisir: Masyarakat diimbau menyiapkan masker medis dan menggunakan kacamata pelindung, terutama saat berkendara roda dua untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik dan gas Laze.
Pembatasan Sewa Perahu: Kepada pemilik kapal, dermaga, maupun pelabuhan lokal diinstruksikan untuk tidak menyewakan perahu kepada wisatawan yang berniat mendekati zona merah terlarang.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang: Warga yang berada di pesisir pantai Selat Sunda, di Banten dan Lampung diimbau tidak memercayai isu-isu hoaks yang menyebutkan erupsi ini berpotensi memicu tsunami. Aktivitas harian dapat berjalan normal dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat.
Perkembangan terkini dan validitas data dapat diakses langsung oleh masyarakat melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di nomor (022) 7272606, Pos Pengamatan Krakatau Pasauran di nomor (0254) 651449 / 085846324506, atau situs resmi magma.esdm.go.id.(***)
Gunung Anak Krakatau 15 Kali Erupsi, Polsek Cinangka Gencarkan Koordinasi dengan Petugas Pos Pantau.
