JAKARTA- Teropong benten,
Dalam upaya mendorong praktik industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) sebagai lembaga penggiat lingkungan berpartisipasi aktif dalam Pertemuan Lintas Lembaga terkait pengelolaan produk sampingan (side product) sabut kelapa dari PT. Natural IndoCoconut Organik (PT. NICO). Pertemuan strategis. Hal ini diselenggarakan beberapa waktu lalu di Wisma BNI 46 Tower, Jakarta (23/7).
Acara tersebut, dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain Tim Ahli Utama Bappenas Prof. Sidqi Lego Pangesthi Suyitno, perwakilan SPPQT Sih Mirmantyo AL, akademisi SPPQT/Undip Prof. Suryono, serta Tokoh dan Akademisi Halmahera Utara, Paulus Tri Arso. Delegasi KAWALI yang turut hadir mengawal jalannya diskusi antara lain Waketum Bidang Internal Tata Hukum, Kaderisasi, dan Hukum, Jurika Fratiwi, S.H., S.E., M.M., Kabid PSD dan Konservasi, Hazami, serta Kabid Program dan Kampanye, Syahreza Pahlevi.
Fokus utama di acara dan pertemuan itu, merumuskan tata kelola limbah sabut kelapa yang selama ini belum dioptimalkan, dengan menggunakan kerangka kerja kolaborasi Penta Helix. Hal ini diungkapkan dalam Skema yang dipresentasikan oleh Prof. Suryono. “Ini menekankan sinergi lima pilar: Pemerintah, Dunia Usaha, Akademisi, Komunitas, dan Media,” ujarnya.
Selain itu, dalam kajian kelayakan dan model tata kelola yang dibahas, lembaga KAWALI menyambut baik transformasi dari skema pengelolaan konvensional menuju skema kolaboratif Penta Helix. Jika skema biasa hanya berorientasi pada profit finansial bagi investor semata, skema Penta Helix membawa dampak non-finansial yang sejalan dengan misi KAWALI, yaitu terwujudnya ekonomi sirkular, pelestarian lingkungan, peningkatan reputasi keberlanjutan perusahaan, penerapan CSR yang berdampak nyata, serta potensi nilai tambah menuju kredit karbon.
“Kehadiran KAWALI di sini adalah untuk memastikan bahwa aspek environmental safeguard atau perlindungan lingkungan benar-benar menjadi pondasi utama dari proyek hilirisasi ini. Melalui skema Penta Helix, limbah sabut kelapa tidak lagi menjadi beban ekologis, melainkan dapat diolah menjadi cocopeat untuk media tanam dan pupuk organik, serta cocofiber untuk geotextile penahan erosi dan produk turunan lainnya. “Ini adalah bentuk nyata mitigasi kerusakan lingkungan berbasis inovasi,” ujar Syahreza Pahlevi, mewakili KAWALI dalam penyusunan arah program tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan lintas lembaga ini, seluruh pihak sepakat untuk membawa rencana kerja ini ke tahap yang lebih jauh. Dan lembaga KAWALI berkomitmen akan terus menjalankan fungsinya sebagai representasi komunitas dan elemen penjaga kelestarian alam, guna memastikan komitmen pengolahan side product ini memberikan manfaat ekologis dan sosial yang adil, khususnya bagi masyarakat di sekitar area operasional industri. (*/Tim)
KAWALI Dorong Ekonomi Sirkular dan Pelestarian Lingkungan Melalui Pendekatan Penta Helix dalam Pengelolaan Sabut Kelapa PT. NICO
