CILEGON, Teropongbanten.id– Akademisi UIN SMH Banten Azharudin Salim Regar mempertanyakan pola kritik yang dua kali dilontarkan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cilegon berinisial MT. Ia menilai, kritik yang disampaikan terhadap persoalan kelembagaan di Kota Cilegon tersebut terkesan mengarah kepada personal salah satu anggota tim seleksi (timsel).
Menurut Azharudin, sebelumnya MT pernah melontarkan kritik terkait proses perekrutan di tingkat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Kini, sorotan kembali muncul dalam persoalan proses pendaftaran calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Cilegon.
Dalam polemik terbaru itu, MT disebut menggunakan ungkapan “itu lagi, itu lagi” ketika menyoroti komposisi tim seleksi. Bahkan, kritik tersebut turut dikaitkan dengan nama sejumlah organisasi kemasyarakatan.
Azharudin menilai, siapa pun yang ditunjuk menjadi timsel bukanlah persoalan selama prosesnya berjalan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.
“Kalau memang ada yang perlu dikritisi, silakan. Tidak masalah siapa pun yang menjadi timsel. Tetapi, jangan sampai kritik terhadap proses justru diarahkan kepada pribadi seseorang. Apalagi sampai membawa-bawa atau seolah-olah menjual nama organisasi masyarakat, terlebih organisasi Islam, untuk memperkuat kritik yang substansinya justru menyerang personal,” kata Azharudin.
Ia menyayangkan apabila nama besar organisasi keagamaan digunakan dalam menyampaikan kritik yang berpotensi membangun opini negatif terhadap individu tertentu.
Padahal, menurut Azharudin, seorang pengurus organisasi keagamaan semestinya mampu mengedepankan keteladanan, baik dalam perkataan maupun tindakan.
“Sepengetahuan saya, yang bersangkutan juga aktif dalam kegiatan keagamaan, mengaji, dan khutbah. Karena itu, seharusnya nilai-nilai keislaman juga tercermin dalam cara menyampaikan kritik. Jangan sampai membawa nama organisasi Islam, tetapi cara penyampaiannya justru berpotensi menjatuhkan kehormatan pribadi orang lain,” ujarnya.
Azharudin bahkan menduga kritik terhadap salah satu anggota timsel tersebut tidak terlepas dari persoalan lama yang berkaitan dengan pengalaman yang bersangkutan di dunia penyelenggaraan dan pengawasan pemilu.
Ia juga menyinggung adanya dugaan sentimen lama terhadap sosok yang kini terlibat dalam tim seleksi tersebut. Namun, Azharudin menegaskan bahwa dugaan itu perlu dibuktikan dan tidak boleh dianggap sebagai fakta tanpa klarifikasi dari pihak terkait.
“Kalau memang ada persoalan lama, selesaikan secara proporsional. Jangan sampai persoalan masa lalu terus dibawa ke ruang publik dan dikemas seolah-olah sebagai kritik terhadap organisasi atau proses kelembagaan. Mengkritik itu boleh, tetapi jangan menyerang pribadi,” tegasnya.
Lebih jauh, Azharudin mengaku memperoleh informasi adanya ketidakpuasan dari sejumlah pihak di internal Muhammadiyah terhadap dinamika kepengurusan PDM Kota Cilegon saat ini.
Menurutnya, informasi tersebut perlu menjadi perhatian pimpinan organisasi agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar dan berdampak terhadap soliditas internal.
Atas kondisi itu, Azharudin meminta Ketua PDM Kota Cilegon bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Banten melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepengurusan PDM Cilegon, termasuk mengevaluasi sikap dan pola komunikasi pengurus yang menduduki posisi strategis, khususnya Sekretaris PDM berinisial MT.
“Saya meminta Ketua PDM Cilegon dan pimpinan Muhammadiyah di tingkat Provinsi Banten tidak menutup mata. Lakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kepengurusan, termasuk terhadap oknum pengurus yang menjabat sebagai sekretaris. Organisasi harus dijaga marwahnya, bukan justru menjadi ruang bagi berkembangnya persoalan personal,” tandasnya.
Ia berharap Muhammadiyah tetap menjadi organisasi yang mengedepankan akhlak, kedewasaan dalam berorganisasi, serta kritik yang konstruktif dan berlandaskan nilai-nilai Islam.(**)
Dua Kali Kritik Timsel, Sekretaris PDM Cilegon Diminta Jaga Etika Organisasi
